Selasa, 04 Agustus 2009


Lukman Sardi, Akhirnya Jadi Tentara


Jika ada polling tentang siapa aktor yang paling berbakat di Indonesia saat ini, mungkin salah satunya yang akan mencuat nama Lukman Sardi. Bagaimana tidak, dalam rentang waktu 2005 sampai 2009 sudah 15 judul film yang dibintanginya.

Perannya pun bukanlah hanya peran ecek-ecek. Anak dari pemain biola terkenal Idris Sardi ini selalu memainkan peran yang berbeda dan terkesan sulit untuk dilakonkan. Misalnya saja, ia pernah bermain sebagai seorang demonstran, gangster, gay, suami yang hobi poligami, supir bajaj, calo kawin kontrak, dan juga gigolo. Bahkan tahun ini Lukman bermain menjadi seorang pejuang, dalam film trilogi perang pertama di Indonesia, Merah Putih.


Tapi sebenarnya tidak banyak yang mengetahui kalau karir akting Lukman Sardi dimulai jauh sebelum era perfilman Indonesia bangkit di tahun 2000-an. Sejak berumur 5 tahun, ia sudah berlakon dalam film garapan Wim Umboh berjudul Pengemis dan Tukang Becak. Di film pertamanya saja, Lukman sudah disandingkan dengan nama besar Christine Hakim, Alan Suryaningrat, Ully Artha, Dicky Zulkarnaen, Chris Steven, Henry Susanto, serta sang kakak Ajeng Triani Sardi.

Karirnya sebagai aktor cilik pun sukses menghasilkan 8 judul film, antara lain Kembang-Kembang Plastik, Pengemis dan Tukang Becak, Anak-anak Tak Beribu, Gema Hati Bernyanyi, Laki-Laki Dalam Pelukan, Bermain Drama, Beningnya Hati Seorang Gadis, serta Cubit-Cubitan.

Memasuki bangku SMA, Lukman terpaksa berhenti berakting demi berkonsentrasi pada sekolahnya. Setelah lulus sebagai Sarjana Hukum dari Universitas Trisakti, ternyata ia tidak juga menggunakan gelarnya untuk mencari nafkah, justru ia beralih profesi menjadi sales asuransi serta mendirikan sebuah playgroup.

Garis hidup dan takdir memang bukanlah ditetapkan oleh manusia. Sebuah sinetron berjudul Cinta Yang Kumau, mengembalikan Lukman Sardi kepada takdir yang mungkin memang disediakan untuknya. Dan lewat perannya dalam film Gie, Lukman bisa kembali ke dunia layar lebar yang dulu pernah membesarkannya.


Selanjutnya yang bisa kita saksikan adalah bagaimana dengan cemerlangnya Lukman memainkan peran-peran dalam 15 film tersebut. Tidak jarang ia juga menuai banyak pujian dari para kritikus film dan meraih berbagai penghargaan seperti nominasi Pemeran Pendukung Pria Terbaik pada Festival Film Indonesia 2005 di Jakarta, The Best Actor pada Bali International Film Festival tahun 2006, nominasi untuk Most Favourite Actor - MTV Indonesia Movie Award 2006, nominasi Pemeran Utama Pria Terbaik - Festival Film Indonesia 2006 di Jakarta untuk Piala Vidia, dan juga Pemeran Utama Pria Film Terpuji di Festival Film Bandung 2006.


Meskipun telah mendapat pengakuan di industri perfilman, ternyata menjadi seorang aktor bukanlah cita-cita Lukman yang sebenarnya. Semasa SMA, Lukman justru bercita-cita menjadi seorang tentara. Untungnya cita-cita itu sekarang bisa ia nikmati lewat dunia seni peran kecintaannya. “Enaknya jadi aktor, kita bisa merasakan menjadi siapapun, seperti menjadi tentara yang merupakan cita-citaku, bisa aku rasakan diperanku dalam Film Merah Putih," papar Lukman. (Ind)
dari www.21cineplex.com

Press Screening Film Merah Putih: Bukan Hanya Adegan Perang


Tanggal 3 Agustus 2009 kemarin, Margate House dan Media Desa mengadakan press screening untuk Film Merah Putih. Selain wartawan, hadir pula para pendukung Film Merah Putih yaitu Lukman Sardi, Darius Sinathrya, Donny Alamsyah, Zumi Zola, T. Rifnu Wisnu, Rahayu Saraswati, dan Astri Nurdin. Tapi sayang acara ini minus dihadiri oleh sang sutradara Yadi Sugandi.

Decak kagum dari kalangan wartawan sebagai penonton saat adegan-adegan berkelahi atau ledakan muncul disana sini. Selain itu terdengar pula tawa karena film bernuansa nasionalis ini ternyata juga terselip komedi segar.

Setelah press screening, para pendukung film memberikan kesan-kesannya selama pembuatan film ini. Yang menarik adalah ketika Darius melontarkan pernyataan rasa bangga dan kecewanya. “Saya bangga dan kecewa untuk film ini. Bangga karena akhirnya ada film yang bisa membangkitkan rasa nasionalis lewat film perang dan sejarah. Film ini juga yang bergenre beda seperti kebanyakan film sekarang. Tapi saya kecewa kenapa ide awal untuk membuat film ini justru datang dari orang diluar bangsa Indonesia. Ternyata mereka lebih peduli daripada kita,” ujar Darius dihadapan para wartawan.

Tidak hanya para pendukung film yang memberikan kesan, para wartawan juga diberikan kesempatan untuk menyatakan kesan atau untuk bertanya mengenai film ini. Seperti salah satu wartawan yang menyatakan, jika film yang disebut-sebut sebagai film perang bergaya Hollywood ini justru tidak seheboh atau semegah film Hollywood pada umumnya. Jeremy Stewart sebagai salah satu produser eksekutif pun memberikan penjelasan. “Film ini merupakan trilogi, sebagai film pertamanya kami memberikan pengenalan terlebih dahulu terhadap para pemain dan jalan cerita, memang ledakan-ledakan dahsyat mungkin tidak sebanyak yang anda kira, tapi kita lihat saja di film kedua dan ketiganya yang saya jamin akan banyak aksi ledakan yang lebih dahsyat dengan taraf Hollywood,” jelas Stewart yang juga mengatakan bahwa film keduanya sudah selesai 70% dan film ketiganya 30%.

Mengapa film ini digembar-gemborkan ala Holywood? Lihat saja daftar kru yang terlibat antara lain Koordinator Special Effect dari Inggris, Adam Howarth (Saving Private Ryan, Black Hawk Down), Koordinator Pemeran Pengganti, Rocky McDonald (Mission Impossible II, The Quiet American), Make Up dan Visual Effect Artist, Rob Trenton (Batman-The Dark Knight), Ahli Persenjataan, John Bowring (Crocodile Dundee II, The Matrix, The Thin Red Line, Australia, X-Men Origins : Wolverine), dan Asisten Sutradara Mark Knight (December Boys, Beautiful).

Film ini akan dirilis secara nasional mulai 13 Agustus 2009 diseluruh bioskop Cineplex 21, dan untuk anda yang tidak sabar untuk menyaksikan film ini, bisa menonton Midnight Show pada 8 Agustus dibeberapa bioskop Cineplex 21. (eM.Yu)


Produser, penulis skenario dan sutradara memutar trailer perdana film Merah Putih serta meluncurkan website media desa Indonesia Senin sore (6/7) di Ballroom XXI, Djakarta Theater. Film ini berawal dari cerita Hashim Djojohadikusumo (Produser eksekutif PT Media Desa) yang menceritakan kisah nyata sejarah kemerdekaan Indonesia kepada Rob Allyn (Produser eksekutif Margate House) dan Jeremy Stewart (Margate House), kemudian dari ide cerita itu Rob berpikir kenapa kisah nyata ini tidak di buat film fiksi saja? Lalu Jeremy mencoba untuk melakukan riset dari berbagai sumber.

Selanjutnya tentang film 6 juta US dollar ternyata benar, "dengan menghabiskan dana 6 juta US dollar atau sekitar 60 miliar Rupiah untuk membayar para pemain dan 300 kruw - film, semoga film ini dapat mendidik dan menginsfirasikan penonton Indonesia", papar Rob Allyn dengan lancar dalam bahasa Indonesia, dan rencananya dia ingin belajar bahasa Indonesia lebih dalam lagi setelah premier film (13/7/09) mendatang.

Film ini akan di buat menjadi 3 episode seperti film Brand of Brother yang di buat menjadi 6 episode. "Rencananya akan kita buat tiga episode untuk tayang di bioskop dan enam episode untuk tayang di televisi", papar Hashim secara tegas. Selanjutnya film ini di produksi dengan skala besar dan tidak setengah-setengah karena film ini juga akan di bawa ke Festival Film baik dia Asia, Eropa maupun Amerika. Selain itu produser film ini juga akan membawa pemain serta aktor dan aktrisnya untuk di promosikan secara mendunia seperti aktor dan aktris di film yang ada di Hollywood.

Episode pertama dari Trilogi film MERAH PUTIH ini, merupakan hasil kolaborasi PT. Media Desa dan Margate House yang melibatkan profesionalitas perfilman terbaik dari tanah air maupun manca negara. Film ini juga melibatkan pembuat film terbaik dari dalam negeri dan luar negeri ini menjadi karya kolaborasi yang menyuguhkan kualitas film Hollywood.

Film ini disutradarai oleh Yadi Sugandi, yang pernah menjadi pembuat film dan penata gambar terbaik untuk Laskar Pelangi, Under The Tree, Tiga Hari Untuk Selamanya dan The Photograph, film Merah Putih ini juga menampilkan sebuah ensemble cast jajaran aktor dan aktris muda terbaik Indonesia: Lukman Sardi (Laskar Pelangi, Quickie Express, 9 Naga, Gie), Doni Alamsyah (Fiksi, 9 Naga, Gie), Darius Sinathrya (Ungu Violet, D�Bijis, Naga Bonar Jadi 2, Love), Zumi Zola (Kawin Laris), T. Rifnu Wikana (Kado Hari Jadi, Laskar Pelangi), dan film ini juga ingin memperkenalkan aktris yang pernah belajar akting di London dan Hollywood Rahayu Saraswati. (Ancah)
dikutip dari www.xotabloid.com

Senin, 03 Agustus 2009

Harga Sebatang Lidi

Tahukah Anda mengapa sebatang sapu lidi begitu murah harganya? Begitu murahnya sampai-sampai ia jauh lebih murah daripada seteguk air penghilang dahaga. Padahal Anda tahu, ia harus dipetik dari pepohonan kelapa yang ditanam di dusun-dusun jauh di pedalaman. Ia pun harus diserut, dihaluskan, diikat kuat agar mudah digunakan dan tak melukai tangan. Ia harus diangkut oleh banyak kendaraan, melewati banyak pasar, dan naik turun timbangan penawaran.

Karena, ia dipetik oleh tangan-tangan kecil yang tak menuntut banyak upah. Ia dijalin oleh wanita-wanita yang tak menghitung laba rugi. Ia juga dipikul oleh bahu-bahu legam pria yang tak terlalu mengerti transaksi jual beli. Sebatang sapu lidi itu begitu murah sampai di tangan kita, karena orang-orang itu tak menghitung jerih perih kerjanya. Mereka pun tak mengkalkulasi butir-butir keringatnya. Maka, mari kita sadari bahwa di balik kemurahan dan kemudahan yang kita cerap sekarang ini, terselip cerita tentang pengorbanan yang jauh lebih berharga ketimbang harga seluruh sapu lidi yang bisa kita beli.
dari milis motivasi
posted by inspirasipagi.imeldafm at | 0 Comments

Minggu, 02 Agustus 2009

Little Manhattan

dari film ini saia belajar

Sederhana saja,

Film ini tentang jatuh cinta.

Bahkan saia mengabadikan kata Gabe pada Rosemary Telesco saat menyatakan cintanya, saia jadikan nada dering ponsel (Ih, konyol ya?)

Film ini tentang Gabe (10) si anak tunggal, naksir sama temennya sejak kecil, Rosemary Telesco (11). Gabe yang suka football dibela-belain ikut karate & ketemu Rosemary. Ada bahagia jalan bareng, latihan bareng, sampe Gabe gak merhatikan keruwetan ortunya, perasaan takut-takut tapi mau-nya Si Gabe mau mendekati Rosemary, perasaan deg-degan akan pisah jauh, sampe cemburu karena Rosemary dekat dengan cowok lain.

Kalau lagi jenuh tapi nggak ada film yang ditonton, saia selalu muter ini. Dari film ini saia belajar banyak.

Lelaki punya dunianya sendiri yang tak bisa dipaksakan untuk kita masuki

Perbincangan yang mengalir dengan seseorang yang kita cintai

Membutuhkan Rosemary untuk belajar dan mencari jalan keluar

Makan malam

Menyatakan cinta


Berpegangan dan percaya pada Gabe agar tak jatuh

Meskipun akhirnya Rosemary menyatakan bahwa mereka masih terlalu muda untuk urusan cinta dan Gabe patah hati, namun tetap ada semangat baru yang tumbuh. Orangtua Gabe akur kembali, Rosemary fokus pada masa depannya… Gabe juga berhenti karate setelah tangannya cedera karena memaksakan diri meraih sabuk kuning.

Dari film ini saia terhibur dan belajar, karena berkat film ini saia mengerti dunia mereka. Cinta tak sebatas “Rosemary, I Love You…”, tapi bagaimana Gabe berputar-putar sebelum mengucapkan itu. Dan bagaimana Rosemary berpikir kembali setelah memutuskan berteman dulu dengan Gabe…


Pengikut